Sejarah Singkat AC

2 min read

Dahulu, kipas tangan menjadi satu-satunya cara untuk mengusir udara panas, tapi kini Air Conditioner atau AC menjadi pilihan masyarakat di dunia agar dapat mendinginkan udara di ruangan. AC merupakan salah satu inovasi yang lahir dari kemajuan teknologi. Bahkan saat ini, AC menjelma sebagai sebuah keharusan yang harus dimiliki, terutama bagi mereka yang tinggal di pemukiman padat penduduk.

Tapi, tahukah kamu? Ada sejarah panjang yang mengawali terciptanya AC hingga menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang  ini. Berikut ulasannya:

  1. Asal-usul AC

AC merupakan teknologi yang dirancang untuk menstabilkan suhu udara dan kelembabannya di dalam ruangan. Sehingga fungsinya tidaknya mendinginkan dan menyejukkan udara, AC juga merupakan penyaman udara.

Jika ditelisik ke belakang, sebenarnya AC bukanlah sesuatu yang baru karena sudah dimulai sejak zaman Romawi Kuno dalam bentuk sederhana. Ketika itu, pendinginan suhu udara dilakukan dengan menyalurkan air melewati terowongan serta diedarkan ke dinding rumah. Di Persia pula, saat Abad Pertengahan, pendinginan udara dilakukan degan memadukan tangki air dengan menara angin.

Sedangkan untuk sistem pendingin udara versi modern baru ditemukan di Abad ke-20 awal. Ketika itu, seorang Insinyur asal Amerika Serikat, Willis Haviland Carrier menemukan AC sebagai mesin pendingin udara secara tidak sengaja.

Berawal dari diterimanya lulusan Cornell University itu di perusahaan pemanasan ruangan Buffalo Forge di tahun 1902, dengan upah 10 dolar seminggu atau sekitar 260 untuk nilai US$ sekarang.

Suatu waktu, Carrier ditugaskan untuk menemukan cara menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi perusahaan percetakan di Brooklyn, yakni solusi untuk menyusut dan melebarnya kertas yang tergantung pada variable kelembaban di Pantai Timur AS.

Padahal, kala itu percetakan sudah berupaya menghindari penggumpalan atau ketidakselarasan yang terjadi dengan menerapkan satu persatu empat tinta warna menggunakan kalibrasi yang tepat.

Saat itu, sistem rancangan Carrier masih berbentuk prototipe AC, tepatnya pengontrol kelembaban. Caranya, sebagaimana dijabarkan dalam situs Wired, udara awalnya dipaksa agar dapat melewati penyaring atau filter kompresor yang bergerakk menggunakan piston, kemudian dipompa di atas koil yang sudah didinginkan dengan pendingin.

Selanjutnya menggunakan kipas angin, udara dingin itu dikeluarkan ke ruang tertutup untuk menyejukkan ruangan serta menjaga kelembabannya tetap stabil. Alhasil, sistem pendingin udara buatan Carrier tersebut mampu mengatasi masalah pelik di perusahaan percetakan di Brooklyn itu.

Keberhasilan Carrier menjadi kabar yang beredar dari mulut ke mulut hingga banyak perusahaan yang memesan alat dengan sistem serupa. Tapi, keberhasilan pertamanya itu tak membuat Carrier berpuas hati. Ia pun terus melakukan pengembangan terhadap alat pendingin udara temuannya tersebut.

  • Perkembangan AC

Setelah dipatenkan pada 2 Januari 1906, Carrier menbangun perusahaan sendiri. Melalui Carrier Engineering Corp yang didirikannya itu, sistem pendingin mulai disuplai ke toko serba ada, hotel-hotel, teater atau bioskop, hingga ke hunian-hunian pribadi milik orang-orang berkantong tebal. Termasuk Gedung Putih, Kongres AS, serta Madison Square Garden di New York merupakan pelanggan yang pertama.

Mesin penyejuk udara tersebut awalnya dihargai selangit, sekitar US$ 10.000 sampai US$ 50.000. Sehingga, hanya orang-orang tajir saja yang bisa memasang AC. Sementara, kebanyakan orang menikmati hawa sejuk dari AC pada 1930-an di gedung-gedung bioskop.

Akibatnya, aura kemewahan AC kian memudar hingga memberikan dampak yang luar biasa. Masyarakat di kota-kota bersuhu hangat di daerah Sun Belt AS, serta wilayah bercuaca hangat lainnya menjadi faktor ledakan ekonomi, justru terlindung temuan Carrier tersebut.

Di tengah perkembanganya, permintaan terhadap AC tak hanya datang dari Amerika Serikat namun secara global terus mengalami peningkatan. Studi Proceedings of National Academy of Sciences tahun 2015 mencatat 3 miliar lebih orang di wilayah tropis maupun non tropis sudah menikmati hawa dingin yang dihembuskan AC.

Kendati mampu memberikan kesejukan pada ruangan tertutup, penggunaan AC harus dibatasi setelah adanya kekhawatiran pemanasan global dari para pemerhati lingkungan. Sebelumnya, bahkan, essay yang dimuat dalam Time, King of Cool tahun 1998 sudah membahas dampak AC terhadap kehidupan manusia.

sumber : Service AC Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.